BPJS Kesehatan - Indonesia National Health System
Post Date : 10 February 2015
Viewed : 947 times

  • At the end of 2014 National Health Insurance (NHI) became hot topic for companies in Indonesia. Under Presidential Regulation No 111/2013, the companies require to register their employees as participants of BPJS Kesehatan before 1 January 2015. BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) is a legal entity established to implement National health insurance. At that time both APINDO (Indonesia Employers Association) and Indonesia Labor Forces were disagree with the deadline. They saw some main issues as follows

    1. National Health Insurance requires patients to go to First Level Health Care providers which mainly are local health centers that provide very minimal health care service. Then the first level local health care is the one which may refer patients to hospital if local health care cannot handle the patients’ case. While most companies provide better health care benefits under non BPJS, so that the employee can go directly to the hospital or appointed credible doctor/clinic. The requirement to go to First Level Health Care providers will be time consuming for employees and may disturb the productivity of employees.

    2. The coordination of benefit between current insurance companies and BPJS have some hurdles to be implemented. Without proper coordination, the company pay extra money without getting any benefit under this regulation.

    At last on 22 December 2014 both APINDO and BPJS Kesehatan agreed to make Memorandum of Understanding which consists of below points.

    1. APINDO commits to support companies to register their employees and their family to become participant of BPJS Kesehatan, before 1 January 2015.

    2. Both parties agree that the activation process can be finalized at the latest 30 June 2015 which means the companies which have not activated the virtual account yet can delay the insurance premium payment up to 30 June 2015.

    3. BPJS Kesehatan with APINDO will coordinate the readiness of First level Health care service by add more clinics and doctors . work with insurane companies to have better Coordination of benefit mechanism and improve the service level for the benefit of the participant.

    4. Sanction based on Government Regulation No 86 2014 is not applicable for the company that has registered.

    This MOU has reduced the confusion and worried of many companies. They expect more the first level Health Care providers, Hospitals will join or provide service to BPJS’ participants and the coordination of benefit among insurance and BPJS Kesehatan will be well implemented.

    As a payroll outsourcing company, I got some questions from my clients which just established business in Indonesia. Is National Health Insurance is an optional ? The answer is NO. It is compulsory.

    National Health Insurance is based on Law no 40/2004. It requires that every Indonesian citizen and residents who stay more than 6 months should be registered in National Health Insurance. Law no 24/2011 appoints BPJS Kesehatan as a body to manage the health care in Indonesia. The principle of this National Health Insurance is to share the burden among people whether healthy and unhealthy regardless the status of citizen (rich or poor), so that the contribution of the companies to pay the premium of this program is important for the National Health Insurance.

    As stated before Government Regulation no 86 2013 has stated the sanction of not registering the employees for the companies is administrative sanctions as follows.

    1. Warning letter

    2. Fine 2% from premium after unpaid for 3 month

    3. Not obtaining certain public service

    Most companies and people concern about not obtaining certain public service, because it may affect to their business license renewal.

    Presidential regulation no 111 2013 determines the company pays premium 4% from the wages/salary with maximum salary of 2 times Non Deductible Tax Income of Married with 1 child or currently amounting Rp 4,725,000. Employees should contribute premium 0.5% from their wages/salary and starting 1 July 2015 the employees should contribute 1% from their wages/salary. The amount of the premium for company will be maximum Rp 189,000 and the premium for employee will be Rp 23,625 or after 1 July 2015 it will increase to Rp 47,250. If the employee wants to cover more than 3 children or parents, s/he can add 1% from her/his salary for every additional member.

    The employee can register the family up to 3 children based on Family Card (Kartu Keluarga) and E-KTP ID number as a reference number to be accepted by BPJS Kesehatan. Some benefits of BPJS are actually more coverage than the coverage from insurance companies such as it is not only covering both outpatient and inpatients in Indonesia, but also treatments that are not covered by common insurance company including a hemodialysis, dental prosthesis

    In general most companies have provided health insurance for their employees. If companies want to add additional insurance, the companies should select the insurance companies that have Coordination of Benefit with BPJS Kesehatan to maximize the benefit of National Health Insurance. There are 49 insurance companies have signed agreement with BPJS Kesehatan (please read this news http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/post/read/2015/307/Daftar-49-Perusahaan-Asuransi-Swasta-yang-Bekerjasama-dengan-BPJS-Kesehatan-melalui-Skema-Coordination-of-Benefit/berita-umum

    Because the regulation requires patient to go to the first level of health care provider, the employee needs to choose the right (good and near) clinic or doctor that has been accepted by BPJS Kesehatan. In case of the clinic cannot handle the patient’s case, the clinic will refer the patient to the hospital.

     

    As the common policy, the employees can reimburse the medical up to one month salary, this benefit may not be eliminated by National Health Insurance. The reason are companies are still questioning the service of First Level Health Care Providers, especially when the employee may face certain emergency situation including night accidents or emergency. Although the regulation allows in case of emergency, the patient can go directly to hospital or any health service provider that is not appointed by BPJS kesehatan. Based on the practical guidance from BPJS Kesehatan, the definition of emergency is the condition where is a health service should be provided to prevent the death, more injury and or disability. In this practical guidance there are a list of diagnosis as a criteria of emergency. However this definition and criteria may not be easy to be interpreted by common people in that situation.

    _______

    Pada akhir tahun 2014 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi topik hangat untuk perusahaan di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden No 111/2013, perusahaan perlu untuk mendaftarkan karyawannya sebagai peserta BPJS Kesehatan sebelum 1 Januari 2015. BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) adalah badan hukum yang didirikan untuk menerapkan JaminanKesehatanNasional. Pada saat itu APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan Tenaga kerja keduanya tidak setuju dengan adanya batas waktu.

    Mereka melihat beberapa isu utama sebagai berikut:

    1. Jaminan Kesehatan Nasional mengharuskan pasien untuk pergi ke penyedia Kesehatan Tingkat Pertama yang terutama adalah puskesmas yang menyediakan layanan kesehatan yang sangat minim. Kemudian penyedia jasa kesehatan setempat tingkat tingkat I tidak mampu, maka penyedia tersebut akan merujuk pasien ke rumah sakit jika penyedia kesehatan setempat tersebut tidak dapat menangani kasus pasien. Sementara sebagian besar perusahaan memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik di bawah non BPJS, sehingga karyawan dapat pergi langsung kerumah sakit atau merujuk ke dokter/klinik yang dipercaya. Persyaratan untuk pergi kepenyedia Kesehatan Tingkat Pertama akan memakan waktu bagi karyawan dan dapat mengganggu produktivitas karyawan.

    2. Saat ini koordinasi manfaat antara perusahaan asuransi dan BPJS memiliki beberapa kendala untuk diimplementasikan. Tanpa koordinasi yang baik, perusahaan membayar uang tambahan tanpa mendapatkan manfaat apapun di bawah peraturan ini.

    Akhirnya pada 22 Desember 2014 baik APINDO dan BPJS Kesehatan sepakat untuk membuat Nota Kesepahaman yang terdiri dari poin di bawah

    1. APINDO berkomitmen untuk mendukung perusahaan untuk mendaftarkan karyawan mereka dan keluarga mereka untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan, sebelum 1 Januari 2015

    2. Kedua pihak sepakat bahwa proses aktivasi dapat diselesaikan paling lambat 30 Juni 2015 yang berarti perusahaan yang belum mengaktifkan virtual account dapat menunda premi asuransi pembayaran sampai dengan 30 Juni 2015.

    3. BPJS Kesehatan dengan APINDO akan mengkoordinasikan kesiapan layanan penyedia kesehatantingkat pertama dengan menambahkan lebih banyak klinik dan dokter,bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk memiliki Koordinasi yang lebih baik dari mekanisme manfaat dan meningkatkan tingkat layanan untuk kepentingan peserta.

    4. Sanksi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 86 2014 tidak berlaku bagi perusahaan yang telah terdaftar.

    Nota kesepahaman ini telah mengurangi kebingungan dan kekhawatiran banyak perusahaan. Mereka berharap lebih penyedia Kesehatan tingkat pertama, Rumah Sakit akan bergabung atau memberikan pelayanan kepada peserta BPJS dan koordinasi manfaat antara asuransi dan BPJS Kesehatan akan diimplementasikan dengan baik.

     

    Sebagai perusahaan penggajian outsourcing, saya mendapat beberapa pertanyaan dari klien saya yang baru mengembangkan bisnis di Indonesia. Apakah Jaminan Kesehatan Nasional adalah opsional? Jawabannya adalah TIDAK. Ini adalah wajib.

    Jaminan Kesehatan Nasional berdasarkan UU No. 40/2004. mengharuskan agar setiap warga negara Indonesia dan warga yang tinggal lebih dari 6 bulan harus didaftarkan di Jaminan Kesehatan Nasional. dan UU no 24/2011 menunjuk BPJS Kesehatan sebagai badan untuk mengelola pelayanan kesehatan di Indonesia. Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional ini adalah untuk berbagi beban antara masyarakat yang sehat dan tidak sehat tanpa melihat status warga negara (kaya atau miskin), sehingga kontribusi perusahaan untuk membayar premi dari program ini adalah penting bagi Jaminan Kesehatan Nasional . Seperti yang dinyatakan sebelumnya Peraturan Pemerintah no 86 2013 telah menyatakan sanksi untuk perusahaan yang tidak mendaftarkan karyawannya, sanksi administratif sebagai berikut.

    1. Surat Peringatan

    2. Denda 2% dari premi setelah menunggak 3 bulan

    3. Tidak mendapatkan pelayanan publik tertentu

    Sebagian besar perusahaan dan masyarakat khawatir tidak mendapatkan pelayanan publik tertentu, karena dapat mempengaruhi perpanjangan izin usaha mereka.

    Peraturan presiden no 111 2013 menentukan perusahaan membayar premi 4% dari upah / gaji dengan gaji maksimum 2 kali Penghasilan Tidak Kena Pajak status Menikah dengan 1 anak atau sebesar Rp 4.725.000. Karyawan harus memberikan kontribusi premi 0,5% dari upah mereka / gaji dan mulai 1 Juli 2015 karyawan harus memberikan kontribusi 1% dari upah mereka / gaji. Jumlah premi untuk perusahaan akan maksimal Rp 189.000 dan premi untuk karyawan akan Rp 23.625 atau setelah 1 Juli 2015 akan meningkat menjadi Rp 47.250. Jika karyawan ingin menambah lebih dari 3 anak-anak atau orang tua,ia dapat menambahkan 1% dari gajinya nya untuk setiap anggota tambahan.

    Karyawan dapat mendaftarkan keluarga hingga 3 anak berdasarkan Kartu Keluarga dan NomorKependudukan E-KTP sebagai nomor referensi yang akan diterima oleh BPJS Kesehatan. Beberapa manfaat dari BPJS sebenarnya lebih luas cakupannya daripada cakupan dari perusahaan asuransi, seperti tidak hanya meliputi rawat jalan dan rawat inap di Indonesia, tetapi juga perawatan yang tidak tercakup oleh perusahaan asuransi umum termasuk hemodialisis(cuci darah), prostesis gigi (gigi palsu)

    Secara umum sebagian besar perusahaan telah memberikan asuransi kesehatan bagi karyawan mereka. Jika perusahaan ingin menambahkan asuransi tambahan, perusahaan harus memilih perusahaan asuransi yang memiliki Koordinasi Manfaat dengan BPJS Kesehatan untuk memaksimalkan manfaat dari Jaminan Kesehatan Nasional. Ada 49 perusahaan asuransi telah menandatangani perjanjian dengan BPJS Kesehatan (baca berita http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/post/read/2015/307/Daftar-49-Perusahaan-Asuransi-Swasta-yang-Bekerjasama-dengan-BPJS-Kesehatan-melalui-Skema-Coordination-of-Benefit/berita-umum)

    Karena peraturan mengharuskan pasien untuk pergi ke penyedia layanan kesehatan tingkat pertama, karyawan perlu memilih klinik atau dokter yang telah diterima oleh BPJS Kesehatan yang benar (baik dan dekat). Dalam kasus klinik tidak bisa menangani kasus pasien, klinik akan merujuk pasien ke rumah sakit. Sebagai kebijakan umum, karyawan dapat mengganti pengobatan hingga satu bulan gaji, manfaat ini mungkin tidak dapat dihilangkan oleh Jaminan Kesehatan Nasional. Alasannya adalah perusahaan masih mempertanyakan Penyediaan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, khususnyabila karyawan menghadapi situasi darurat tertentu termasuk kecelakaan di malamhari dan darurat. Meskipun peraturan memungkinkan dalam keadaan darurat, pasien bisa langsung ke rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan yang tidak ditunjuk oleh BPJS kesehatan. Berdasarkan panduan praktis dari BPJS Kesehatan definisi darurat adalah kondisi di mana pelayanan kesehatan harus disediakan untuk mencegah kematian, keparahan danatau cacat. Pada panduan praktis tersebut terdapat daftar diagnosa yang memenuhi gawat darurat. Namun definisi dan daftar tersebut tidak mudah dipahami oleh orang umum dalam situasi tersebut.