Financial Literacy
Post Date : 21 June 2021
Viewed : 160 times

  • Financial Literacy

    One of WPS's core values is Continuous Learning. As part of the learning process, we want all WPSians to be competent in doing tasks as a Payroll Consultant or an IT Consultant and mastering financial literacy in their daily life. We understand it is not how big we earn, but if we cannot manage our spending habits, it can cause financial problems. Moreover, we have many personal goals, such as owning a house and educating our children. Therefore, on June 14th, 2021, we invite Wijantini (Ph.D. in finance) to give an online workshop on how WPSians can manage his/her own money with these topics:

    - Understanding finance in general, including preparing the short-term and long-term budget,

    - Getting used to save and invest

    - Knowing when to have and manage loans

    - Managing shopping habits.

     

    Kecakapan mengelola keuangan

    Sebagai bagian proses pembelajaran, kami ingin WPSian mampu dan kompeten pada tugas masing-masing baik sebagai Payroll Consultant atau IT Consultant dan mampu mengelola keuangan pribadi. Kita mengerti hal ini bukan hanya berapa besar uang yang kita hasilkan, tetapi kita tidak dapat mengelola dalam berbelanja dapat menyebabkan masalah dalam hidup kita. Lebih lagi, kita mempunyai tujuan pribadi seperti memiliki rumah dan pendidikan anak. Oleh karena itu pada tanggal 14 Juni 2021, kami mengundang Wijantini Phd dalam bidang Keuangan memberikan loka karya secara daring bagaimana agar WPSian cakap dalam mengelola uang dengan

    - mengetahui keuangan secara umum dengan membuat anggaran,

    - membiasakan menabung dan berinvestasi,

    - mengetahui kapan perlu berhutang dan mengelola hutang dan

    - menjaga dalam berbelanja.

    Mengelola Keuangan Keluarga Saat Pandemi

     Pandemi Covid-19 memporakporandakan berbagai industri di seluruh dunia. Tak heran, banyak bisnis mengalami penurunan pendapatan bahkan harus menutup usahanya. Dampaknya tentu pada keuangan keluarga pemilik dan pekerjanya. Sebuah studi dilakukan oleh badan amal internasional Oxfam secara spefisik menyebutkan bahwa kaum perempuan di dunia yang terkena krisis pandemi ini telah kehilangan pendapatan sekitar $ 800 miliar (Rp 11.525 triliun) di tahun 2020. Ini setara dengan gabungan total Produk Domestik Bruto (PDB) dari 98 negara. Selain itu, perusahaan Gallup juga mengeluarkan hasil jajak pendapatnya tentang dampak pandemi Covid-19 di 117 negara. Disebutkan sekitar 1,6 miliar orang dewasa mengalami penurunan pendapatan. Di Indonesia, lebih dari 70% orang yang disurvei mengatakan bahwa mereka membawa uang lebih sedikit dibanding sebelum pandemi.

    Jika ada rekan, sanak saudara anda termasuk yang harus mengalami kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan, apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyelamatkan keuangan keluarga mereka di masa pandemi ini?

    Membuat Prioritas

    Langkah awal adalah mengatur ulang pengeluaran. Berikutnya adalah segeralah mencari alternatif pemasukan baru. Jika dalam waktu dekat, pekerjaan baru belum bisa diperoleh, maka prioritas utama yang harus dilakukan adalah menyeleksi pengeluaran yang harus dikurangi. Coba pisahkan mana yang tergolong pengeluaran wajib dan yang sifatnya hanya untuk tambahan kesenangan. Contoh pengeluaran yang terakhir adalah seperti membayar layanan streaming, langganan TV kabel, dan keanggotaan pusat kebugaran. Jangan lupa untuk mengajak anggota keluarga untuk turut mengambil keputusan mengenai pengeluaran yang harus dihemat. Di masa sulit ini, anggota keluarga perlu diberitahu mengenai kondisi keuangan dan dukungan mereka sangat dibutuhkan.

    Dengan banyaknya waktu di rumah selama pandemi, maka semangat “bisa melakukan sendiri” (do it yourself) bisa memberi dampak ganda. Tak hanya bisa untuk menghemat pengeluaran tetapi juga cara untuk mendapat pengalaman baru. Misalnya jika selama ini kita membayar jasa untuk mengganti oli mobil. Tak ada salahnya untuk mulai melakukannya sendiri. Contoh lain misalnya saat pompa air berdengung, maka kita bisa belajar dari media sosial seperti YouTube, internet untuk mencoba memperbaikinya sendiri. Demikian juga biaya untuk kebersihan rumah, waktu berlebih di masa pandemi ini bisa memiliki manfaat untuk melatih tanggungjawab anggota keluarga selain untuk berhemat. Yang terakhir adalah kita bisa mengajak anggota keluarga untuk membantu menyiapkan masakan, selain berhemat dengan memasak sendiri, kita juga menciptakan ikatan keluarga dengan memasak bersama. Bahkan kalau kita memiliki hobi memasak, ini bisa menjadi bisnis baru dengan menawarkan hasil masakan kita lewat media sosial.

    Hal lain yang bisa membantu keuangan saat pandemi adalah meninjau ulang pemilikan harta anda. Barang-barang jarang dipakai tentu bisa dijual. Jika anda memiliki tas bermerek yang mahal, perhiasan yang menumpuk, dan harta berharga lainnya, saat ini yang lebih dibutuhkan adalah kas untuk membayar tagihan. Agar mendapat harga terbaik, sangat dianjurkan anda menggunakan media online untuk menawarkan barang-barang tersebut. Lalu jika saat ini anda memiliki beberapa mobil, maka hanya memiliki 1 mobil menjadi alternatif cara berhemat. Dengan demikian biaya pemeliharaan, asuransi serta pengeluaran mobil juga mengecil.

     

    Perlu diingat bahwa fokus anda adalah pada hal-hal apa saja yang bisa dilakukan di masa pandemi ini dan tidak menyerah kepada keadaan. Banyak kisah sukses berbisnis di tengah pandemi ini yang memberi pesan bahwa semua peluang harus digapai dengan rencana dan tindakan yang nyata.

    Pertimbangkan semua Kemungkinan

    Tidak semua bisnis memburuk karena pandemik Covid-19. Krisis selalu membuka peluang bagi yang mau memanfaatkannya. Siapa tahu krisis ini justru jalan menuju sukses. Berikut beberapa pekerjaan dan bisnis yang justru dibutuhkan saat ini. Yang pertama, tentu yang berkaitan dengan layanan kesehatan. Pekerjaan baru yang muncul adalah bekerja di pusat layanan tes Covid-19, atau sebagai tenaga kesahatan serta pelacak orang untuk diminta melakukan tes virus. Di masa yang akan datang, manusia akan tetap hidup bersama virus. Pekerjaan yang sifatnya untuk mencegah penyebaran virus akan terus dibutuhkan.

    Bisa diduga permintaan berkaitan untuk pelaksanaan 5M (Menjaga jarak, Menggunakan masker, Mencuci tangan, Menghindari kerumunan dan Mengurangi mobilitas) juga akan terus ada. Bisnis seperti memasang penyekat, menyediakan masker transparan dengan disain yang makin baik serta produksi cairan sanitasi juga akan tetap tinggi. Kebijakan bekerja di rumah telah membuat karyawan kehilangan kebutuhan sosialnya untuk berkumpul. Perusahaan tidak memiliki waktu untuk merencanakan dan mengkoordinir aktifitas virtual yang bisa mendorong karyawan untuk lebih berkarya dan tetap produktif di masa pandemi ini. Bisnis yang menawarkan program-program penyegaran karyawan yang mampu mengurangi kerumunan yaitu dengan menggabungkan kegiatan dalam dan luar jaringan akan menjadi bisnis yang menjanjikan di masa pandemi ini. Dengan himbauan untuk mengurangi bepergian, tak dapat dipungkiri, pekerjaan atau bisnis yang berkaitan dengan penjualan online juga meningkat. Dengan maraknya transaksi online, maka jasa pengiriman barang, titipan barang serta bisnis turunan lainnya seperti penyedia bahan pembungkus juga turut meroket.

    Berpikir Positif

    Perubahan memang tidak mudah tetapi hal utama dan yang terpenting adalah tetap berpikir positif dalam menjalaninya. Dengan memberi energi positif di saat susah, kita juga telah memberi contoh sebagai bekal hidup bagi anak-anak. Bahkan kita bisa menjadi panutan bagi rekan dan keluarga yang juga mengalami hal yang sama. Kemampuan kita untuk bertahan sampai pandemi berlalu sangat dibutuhkan. Kekuatan berpikir positif menarik banyak peluang. Ini yang sering disebut sebagai the Law of Attraction. Banyak orang mempercayai bahwa apa yang kita bayangkan dan pikirkan bisa terwujud jika kita membuat rencana dan terus menerus mengerahkan pikiran ke arah sana. Ini salah satu misteri kehidupan yang membuka mata bahwa kita mampu menarik alam semesta untuk mendukung. Dengan kita mengarahkan pikiran pada hasil yang positif maka kekuatan pikiran kita akan membantu mewujudkan apa yang kita inginkan. All thoughts turn into things.

     

    Wijantini

    Pengajar Universitas Prasetiya Mulya